Showing posts with label PECINTA ALAM. Show all posts

Saturday, March 2, 2013

Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua 'Caving' yakni Caving berasal dari kata Cave= Gua. Sedangkan orang yang menelusuri gua disebut caver. Jadi caving bisa diartikan sebagai kegiatan penelusuran gua yang mana merupakan salan satu bentuk kegiatan dari Speleologi. Sedangkan Speleologi secara morfologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Spalion = Gua dan Logos = ilmu. Jadi, secara harfiah Speleologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang gua, tetapi karena perkembangan speleologi itu sendiri, spleologi juga mempelajari tentang lingkungan disekitar gua. 


Ada Beberapa Pengertian Penelusuran Gua "Caving' menurut para ahli Penemu mamupun para Caver, yakni : 
  1. Menurut IUS (International Union of Speleology) anggota komisi X UNESCO PBB : “Gua adalah setiap ruang bawah tanah yang dapat dimasuki orang”.
  2. Menurut R.K.T.ko (Speleologiawan) : “Setiap ruang bawah tanah baik terang maupun gelap, luas maupun sempit, yang terbentuk melalui system percelahan, rekahan atau aliran sungai yang membentuk suatu lintasan aliran sungai dibawah tanah.”
Adapun Sejarah Penelusuran Gua 'Caving', yang dimulai dari tahun ke tahun, yakni : 


  1. Penelusuran Gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674) ia seorang ahli tambang dan geologi amatir.
  2. Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua-gua antara tahun 1670-1680 adalah Baron Johann Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 goa, membuat peta, sketsa dan melahirkan buku setebal 2800 halaman.
  3. Joseph Nagel, pada tahun 1747 berhasil memetakan system perguaan di kerajaan Astro-Hongaria.
  4. Stephen Bishop, pemandu wisata gua yang paling berjasa dan membawa gua Mammoth diterima UNICEF sebagai warisan dunia.

Rafting 'Arung Jeram' tergolong cukup popular ditanah air kita, diarena-arena bertaraf internasional macam SEA GAMES, dayung merupakan tambang emas bagi atlit-atlit kita dalam merebut medali. Tetapi olahraga Rafting  'Arung Jeram'  ini tidak hanya digemari oleh mereka yang benar-benar atlit. Anak-anak muda yang menyebut dirinya pecinta alam pun suka aktivitas ini. Dan mulai melibatkannya dalam aktivitas outdoor mereka. Bahkan sejak awal decade 70-an

Sebenarnya urusan dayung mendayung ini kalau dilihat dari media dimana aktivitas ini dilakukan digolongkan menjadi dua yaitu :
  1. Rafting  'Arung Jeram'   di air tenang (flat atau slack water)
  2. Rafting  'Arung Jeram'   Arus Deras (wild atau white water)



Kedua Golongan Arum Jerang (Dayung) memilki keunikan sendiri-sendiri. Akan tetapi kedua memiliki dasar-dasar teknik yang sama dalam mendayung.
  1. Rafting  'Arung Jeram'  Arus Tenang
    Berbicara dalam konteks Arum Jerang (Dayung) Arus Tenang tidak dapat terhindarkan untuk membicarakannya dalam term kompetisi. Kompetisi yang dilakukan diarus tenang secara umum dikategorikan dalam tiga nomer yaitu :
    • Kano
    • Rowing
    • Tradisional
    Masing-masing kategori memiliki spesialisasi sendiri-sendiri
    • Kano, Menurut jenis perahu yang dipergunakan, kano dibagi dalam dua kategori yaitu : Racing dan Touring Norner yang sering dipertandingkan dalam olah raga kano ini antara.lain
    −    Kayak 1(K1) 500m dan 1000m

    −    Kayak 2 (K2) 500m dan 1000m

    −    Kayak 4 (K4) 500m dan 1000m

    −    Canadian Cano 1 (C1) 500m dan 1000m

    −    Canadian Cano 2 (C2)500m dan 1000m
    • Rowing, Nomer Rowing semua menempuh jarak 2000m. Nomer rowing yang paling bergengsi adalah Single Scull dan Double Scull
    • Tradisional , Nomer ini merupakan warisan bangsa yang dilestarikan hingga kini. Misalkan pertandingan tradisional di sungai Musi, Perahu Naga di Hongkong, S-11 dl.
  2. Rafting  'Arung Jeram'  Arus Deras
Di Indonesia istilah yang baku untuk kegiatan alam bebas Rafting  'Arung Jeram'  ArusDeras ini belum ada (belum ada keseragaman bahasa). Wanadri menyebutnya ORAD (Olahraga Arus Deras), Anak Mapala UI menyebutnya ORAJ (Olahraga Arung Jeram), sedangkan anak ARANYACALA Trisakti menyebut dengan terminologi Arus Sungai. Ketidak seragaman ini bisa memiliki konotasi yang berbeda-beda. Tapi sejauh ini memang belum pernah ada upaya penyeragaman.
Orang-orang daratan Eropa dan Amerika secara umum menyebut kegiatan ini White Water Sport, atau juga sering dipergunakan istilah Terminologi White Watering. Di Amerika olahraga ini sudah dilakukan sejak abad 19. Sebagai contoh pengarungan sungai Colorado yang pertama dilakukan oleh Mayor John Wesly Powel tahun 1869. Ia menempuh jarak 250 mil melintasi gugusan tebing-tebing raksasa yang bercadas kritis, yang kemudian diberi nama Green Canyon. Powel melakukanya dengan perahu kecil yang tersusun atas papan kayu.
Di manca negara kegiatan ini sudah lahir sebelum negeri kita merdeka. Jauh sebelumnya sekitar satu abad. Tentu saja jika dibandingkan dengan pusat kegiatan penuh tantangan ini, Eropa dengan Amerika perkembangan arung jeram di tanah air masih seumur jagung, sebab olah raga ini baru dilirik orang sekitar awal decade 70-an. Tidak terelakkan lagi, dua kubu pergerakannya adalah Wanadri dan Mapala UI. Meskipun sejarah perkembangannya tidak terpaut jauh dengan sejarah pendakian Gunung Es atau Gunung Salju, namun prestasi yang berhasil diraih anak-anak Indonesia masih dalam biasa-biasa saja. Ini terbukti dari produktivitas yang teramat rendah dari para kelompok yang suka berpetualang di alam bebas dalam mengarungi sungai-sungai yang masih perawan, yang berjumlah ratusan bahkan ribuan di Tanah Air kita
Sejauh ini Olahraga Rafting  'Arung Jeram'  di indonesia baru beberapa sungai yang popular antara lain: Sungai Progo, Serayu, Cimanuk, Cisadane, Citanduy, Cimandiri, Citatih, Alas, Tripa dll. Itu dilakukan dalam masa dua dekade. Sungguh produktivitas yang amat rendah. Diakui atau tidak. Sebenarnya latar belakangnyapun sangat kompleks, sehingga rasanya tidak fair jika tudingan diatas terlalu ditonjolkan. Hal ini menjadi bahan diskusi yang menarik yang tidak habis diperbincangkan dalam satu atau dua hari. Secara sangat subyektif, prestasi diatas termasuk membanggakan, terutama untuk Palapsi UGM. Progo, Serayu, Tripa, Bogowonto, Elo, Carama, Mamasa, Padegolan, dibuka dan dipelopori oleh Palapsi. Sedangkan yang lain dibuka oleh Mapala UI dan Wanadri. Sedangkan sungai yang lain: Alasa dan Saddang dibuka oleh kelompok arung jeram paling handal dari negeri Paman Sam, Sobek Expedision Inc. Secara obyektif, Palapsi memberi kontribusi yang berarti dalam mengukir perkembangan kegiatan ini di Tanah Air.

RAFTING (ARUNG JERAM)

Posted by Unknown
Friday, February 22, 2013

Banyak dan terlalu banyak sekarang ini organisasi - organisasi berorientasi alam bebas yang bernama Pecinta Alam. Di kalangan mahasiswa di kampus juga ada UKM ( Unit Kegiatan Mahasiswa ) yang salah satunya adalah Mapala ( Mahasiswa Pecinta Alam ) yang tentunya dengan nama kampusnya, ada IMAPALA ( Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam ), Himapala ( Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam ) dan aneka Pala - pala yang lain yang seabrek jumlahnya.


Sebelum berziarah ke alam bebas ( gunung, belantara, padang sabana, sungai ), mahasiswapencinta alam biasanya membangun menara berbentuk tebing di sekitar kampus. Menara dari bahan besi beton, papan, kayu itu dirancang mirip lereng gunung atau tebing sungai.

Hampir setiap hari, mereka melatih keterampilan mendaki gunung di menara itu. Mereka menggenjot ketahanan fisik, mental pantang menyerah dan keberanian dalam menghadapi risiko. Pencinta alam ini umumnya memiliki ciri hampir sama. Berperilaku agak "nyleneh", rambut gondrong, pakaian "kumal" ( acak - acakan ), sepatu butut dan jarang membersihkan diri. Pakaian khas mereka ( jaket ) seringkali dilabeli tulisan: "Sang Penakluk Alam", "Sang Musafir Abadi", "Mahasiswa Pemberani," dll. Konon, tulisan itu bisa menambah semangat kepahlawanan mereka ketika menjelajahi alam bebas.

Benarkah mereka sungguh - sungguh mencintai alam dan lingkungan?. Saya sering mengamati kegiatan mahasiswa pencinta alam baik waktu di kampus ataupun waktu berada di alam bebas. Semula saya berpikir, mahasiswa pencinta alam sungguh mencintai alam. Namun setelah beberapa kali melihat kegiatan mereka di alam pikiran pun berubah 180°.

Ternyata, mereka bukan pencinta alam. Ada memang mahasiswa yang benar - benar mencintai alam tapi persentasenya 1 banding 1000, tak percaya? Coba ingat - ingat kapan terakhir kali kamu ke gunung atau hutan, apakah kamu bawa pulang kembali sampah yang kamu buang di hutan dan di gunung ?

Lingkungan hidup kita tidak hanya dirusak oleh penebang liar dan konglomerat ( pengusaha kayu ), tapi juga oleh para mahasiswa yang mengaku "pencinta alam" itu. Mereka buang kotoran ( berak dan kencing ) di sungai, puncak gunung, hutan, dan sebagainya. Bahkan sisa makanan berikut bungkusnya, kertas koran dan botol plastik dibiarkan berserakan di tengah hutan atau aliran sungai.

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, kalangan "pencinta alam" belum pernah menyelamatkan lingkungan hidup. Sebaliknya, kegiatan mereka justru dapat merusak alam.Sebab, ketika berjalan di tengah hutan, lereng gurung atau pinggir sungai, selalu ada tumbuhan kecil yang diinjak, ditebas dan dipatahkan. Malahan "pencinta alam" ini acapkali membuat api unggun di tengah hutan. Ironisnya lagi, mereka suka berdisko ria mengitari api unggun di kegelapan malam, sehingga memperparah kerusakan lingkungan.

Gunung Slamet dulu terkenal bukan cuma karena jalur pendakiannya yang menantang, tapi juga karena keindahan alamnya. Tapi coba sekarang tengok, Gunung Slamet sekarang merana, tak ubahnya seperti tempat pembuangan sampah di pasar, dan yang lebih parah, kebakaran demi kebakaran sering terjadi dan tidak pernah mendapat penanganan serius. Sehingga yang dulu tampak hijau dan indah di pandang sekarang tinggal dahan dan ranting pohon yang mengering. Padahal dampaknya sangat terasa pada masyarakat di bawahnya.Seperti mengeringnya sumber air dan semakin banyaknya lahan tandus.

Sebagai bukti yang lain, kini Mount Everest menyandang gelar satu lagi disamping sebagai gunung tertinggi di dunia juga sebagai gunung paling kotor didunia yang disebabkan oleh sampah dan tabung - tabung oksigen sisa - sisa para pendaki. Siapa penyebab semua ini? tidak lain mereka yang mengaku pencinta alam tapi sebenarnya tidak tahu hakekat mencintai alam. Padahal untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem yang telah dirusak oleh mereka yang mengaku pencinta alam, membutuhkan waktu yang sangat lama, beratus - ratus tahun tahun bahkan mungkin ribuan tahun.

Kalau memang mencintai alam kenapa mesti harus ke gunung dan hutan ? sedang lingkungan disekitar kita sebenarnya lebih membutuhkan perhatian. Mata air yang mulai mengering, pendangkalan sungai serta abrasi pantai adalah contoh yang mengundang perhatian para pencinta alam. Tapi anehnya, kebanyakan dari pencinta alam tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Mereka malahan pergi ke gunung dan hutan dan melakukan kegiatan yang justru merusak lingkungan. Padahal gunung, hutan asri, dan sungai yang bening tidak memerlukan kehadiran mereka.

Pencinta alam sejati semestinya berusaha mempertahankan dan melestarikan lingkungan hidup. Mereka akan berusaha menanam tumbuh-tumbuhan pada lahan - lahan kering, berusaha mengatasi tanah longsor, bahaya banjir, berusaha menyelamatkan flora dan fauna serta menentang perbuatan merusak lingkungan. Memang boleh pergi ke hutan dan gunung, tapi jangan sampai meninggalkan bekas yang dapat merusak alam serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Dan jangan pernah membawa pulang apapun kecuali dalam bentuk foto dan untuk kepentingan Riset. Usaha - usaha itulah yang seharusnya menjadi fokus perjuangan para pencinta alam. Sehingga mereka tidak dicap"Pencinta Alam Gadungan".

Bukan menggurui, tetapi hanya menjadi kilas balik dan mengingatkan, bahwa jadilah orang yang mencintai dan peduli alam sekecil apapun. Jadikan simbol Pecinta Alam tak hanya suatu kebanggan semu. Ingatkan kami jika kami bersalah pada alam ini. Kami dan saya juga masih belajar menyelami alam ciptaan Tuhan untuk kita. Wujudkan!...


Salam Rimba Indonesia!

PECINTA ALAM GADUNGAN

Posted by Unknown
Selama ini dan sejauh ini, banyak anggapan, bahwa seorang pecinta alam adalah juga pendaki gunung demikian juga sebaliknya, pendaki gunung pastilah pecinta alam. Untuk lebih mengetahui lebih jauh lagi, ada baiknya kita kaji kedua istilah tersebut sehingga pemahaman yang keliru tidak mudah menjebak kita.



Seorang pendaki gunung dapat dikatakan sebagai orang yang gemar atau memiliki hobi melakukan kegiatan mendaki gunung. Para pendaki tidak memiliki motivasi lain selain hanya sekedar melakukan kesenangannya sendiri yakni mendaki gunung, mencari ketenangan, udara segar, kebersamaan atau menikmati keindahan alam, baik secara individu maupun secara berkelompok.

Sedangkan seorang Pecinta Alam adalah orang yang hidupnya benar - benar tidak bisa lepas dari alam, ciri - cirinya orang ini tidak akan betah untuk berlama - lama tinggal di keramaian kota yang padat, bising dan penuh polusi, mereka serasa tak bisa hidup bahagia jika tidak bercengkerama dengan alam dan jangan coba - coba mengekang mereka karena mereka memiliki jiwa yang sangat bebas, pemberontak dan sulit dipahami. Namun mereka memiliki kepribadian yang sangat luar biasa, tidak sombong, supel, ramah dan tak pernah putus asa sebagai buah dari hasil didikan sang alam.

Antara pecinta alam dan pendaki gunung sebenarnya memiliki kesaman, yakni sama - sama termasuk ‘orang - orang yang mencintai alam’. Namun kadar mencintai alamnya itulah yang membedakan diantara keduanya. Seorang pendaki gunung, mencintai alam hanya pada bagian luarnya saja, mereka sudah cukup puas jika bisa melihat, mendengar atau merasakansuasana alam dan tidak memiliki semangat untuk menjaga kelestariannya.

Sedangkan pecinta alam, mencintai alam secara total, baik unsur luarnya maupun unsur didalamnya seperti halnya apabila seseorang mencintai orang yang dicintainya, tentu ada yang mencintai hanya karena fisiknya, karena hatinya atau bisa karena keduanya. Nah para pecinta alam ini adalah orang - orang yang mencintai alam baik karena fisiknya maupun karena hatinya.

Bagaimana kita bisa mencintai hati sang alam? Yakni dengan mencintai sifat - sifat alam seperti:Sifat alam yang sangat sulit ditebak karena terkadang bisa menjadi sahabat dan ada kalanya bisa menjadi musuh yang sangat kejam, namun sesungguhnya alam hanyalah makhluk Tuhanyang pendiam dan sangat rapuh.

Para pecinta alam adalah orang - orang yang mencintai alam disaat sedang bersahabat ataupun disaat sedang rapuh dan tak bersahabat. Dari penjelasan tersebut, ternyata pecinta alam dan pendaki gunung sebenarnya memilki perbedaan meskipun keduanya juga memilki kesamaan.
Untuk lebih mempermudah pemahaman, berikut adalah contoh nyata: 
Apabila di sebuah gunung telah terjadi tanah longsor, pembukaan lahan, penggundulan, atau kebakaran hutan yang menyebabkan gunung menjadi gersang, panas dan tak nampak indah lagi. Maka para pendaki gunung tidak akan tertarik lagi untuk datang dan mendaki gunung tersebut, karena secara fisik gunung tersebut sudah cacat.

Namun bagi para pecinta alam keadaan gunung yang seperti itu membuat mereka resah dan merasa bahwa gunung tersebut sedang terluka parah dan secepatnya harus diobati dengan segera melakukan penghijauan kembali. Itulah salah satu contoh orang yang mencintai alam secara total.

Pada saat sama - sama melakukan pendakian gunung, para pendaki gunung hanya memiliki satu tujuan yakni mendaki gunung sampai meraih puncak tanpa menghiraukan sampah - sampahyang ditemuinya atau bahkan mereka sengaja membuang sampah - sampah mereka sendiri secara sembarangan karena merasa sampah hanyalah beban.

Sedangkan pecinta alam yang sedang mendaki gunung, puncak bukanlah satu - satunya tujuan karena tujuan utama mereka adalah perjalanan itu sendiri. Para pecinta alam tidak akan membuang sampah sembarangan dan mereka tak akan segan untuk mengumpulkan setiap sampah yang ditemuinya karena mereka paham betul akan bahaya sampah bagi kelestarian alam.

Pendaki Gunung Dan Pecinta Alam adalah orang yang memiliki kepribadian yang berbeda karena tujuan mereka juga berbeda. Tidak perlu menilai mana yang lebih baik diantara keduanya, sebab jauh lebih baik jika kita memilih menjadi pendaki gunung yang pecinta alam. 
Saturday, February 9, 2013

Mountaineering atau Pendakian gunung sebenarnya telah dilakukan oleh para nenek moyang kita yang dimulai dengan bapak manusia Nabi Adam AS yang menjelajahi bukit tursina untuk mencari cintanya Siti Hawa. Siti Hajar yang telah lintas dari bukit marwah ke bukit Safa ditemani dengan sherpa JIBRIL untuk mencari air bagi ismail yang lagi kehausan. Dan pendakian demi pendakian hingga saat ini masih terus berlangsung dan kelak (tak lama lagi ) giliran kalian untuk melanjutkan amanah menjaga kelanggengan kemanusian.

Sejarah Mountaineering di Dunia
1942 : Anthoine de Ville memanjat tebing Mont   Aiguille (2907 m) di pegunungan alpen untuk berburu chamois (Kambing gunung)

1624:  Pastor pastor Jesuit, melintasi pegunungan himalaya dari gharwal di Iindia ke Tibet menjalankan tugas misionarisny






1760 :Professoe de Saussure menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat menaklukkan puncak mont blanc guna kepentingan ilmiahnya.

1786 : Puncak tertinggi di pegunungan alpen Mont Blanc (4807 m) akhirnya dicapai oleh Dr. Michel Paccaro dan Jacquet Balmat.

1852:  Batu pertama jaman keemasan dunia keemasan di Alpen diletakkan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3.708 m), cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga.

1852 : Sir George Everest, akhirnya menentukan ketinggian puncak tertinggi dunia, dan di abadikan dengan namanya (8.848 m), orang Nepal menyebut puncak ini dengan nama sagarmatha, orang tibet menyebutnya chomolungma.

1878 : Clinton Dent (bukan pepsoden) memnjat tebing Aigullie de dru di perancis yang memicu trend pemanjatan tebing yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup curam dan sulit, banyak orang menganggap peristiwa ini adalah kelahiran panjat tebing

1895 : AF Mummery orang yang disebut sebagai bapak pendakian gunung modern hilang di Nanga Parbat (8.125 m), pendakian ini adalah pendakian pertama puncak di atas ketinggian 8.000 m.

1924 : Mallory dan Irvina mencoba mendaki Everest, keduanya hilang diketinggian sekitar 8.400 m

1953 : Pada tanggal 29 mei Sir Edmund Hillary dan Sherpa Tenzing Norgay akhirnya mencapai atap dunia puncak everest.

Sejarah Mountaineering di Indonesia

1623 : Yan Carstenz adalah orang pertama  melihat adanya pegunungan sangat tinggi, dan tertutup salju di pedalaman irian

1899: Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz hampir 3 abad sebelumnya tentang “ … pegunungan yang sangat tinggi, di beberapa tempat tertutup salju!” di perdalaman Irian. Maka namanya diabadikan sebagai nama puncak yang kemudian ternyata merupakan puncak gunung tertinggi di Indonesia.

1962 : Puncak Carstenz akhirnya berhasil dicapai oleh tim pimpinan Heinrich Harrer.

1964 : Beberapa pendaki Jepang dan 3 orang Indonesia, yaitu Fred Athaboe, Sudarto dan Sugirin, yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih, berhasil mencapai Puncak Jaya di Irian. Puncak yang berhasil didaki itu sempat dianggap Puncak Carstensz, sebelum kemudian dibuktikan salah.

Puncak Eidenburg, juga di Irian, berhasil di daki oleh ekspedisi yang dipimpin Philip Temple.
Dua perkumpulan pendaki gunung tertua di Indonesia lahir : Wanadri di Bandung dan Mapala UI di Jakarta, lalu di susul oleh perkumpulan perhimpunan pencinta alam lainnya mulai dari, MPA,SISPALA, KPA, ERNIPALA, MODIPALA dan sebagainya.

1972 : Mapala UI, diantaranya adalah Herman O.  Lantang dan Rudy Badil, berhasil mencapai Puncak cartenz. Mereka merupakan orang-orang sipil pertama dari Indonesia yang mencapai puncak ini.

Kegiatan alam terbuka khususnya mendaki gunung sendiri sebenarnya sudah dikenal sejak lama, baik yang dilakukan karena tuntutan hidup atau karena alasan yang lain, perang misalnya. Seperti yang dilakukan oleh Hanibal panglima kerajaan Kartago atas pegunungan Alpen yang bersejarah atau petualangan yang dilakukan oleh Jenghis Khan yang melintasi Pegunungan Karakoram dan Kaukasus untuk menuju Asia Tengah. Babak baru olahraga pendakian gunung dimulai ketika berdiri perkumpulan pendaki gunung tertua di dunia yaitu British Alpine Club (1857). 
Kegiatan alam terbuka mulai terorganisir ketika bapak pandu dunia Lord Boden Powel mengenalkan kegiatan alam terbuka kepada anak-anak dan remaja di Inggris pada saat itu. Dari sinilah mulai terbentuk organisasi-organisasi kepanduan yang mengacu pada konsep dasar yang dibuat oleh Lord Boden Powel yaitu “bermain dan belajar dari alam”. Disusul kemudian dengan berdirinya organisasi-organisasi yang bergerak dalam bidang kelestarian lingkungan hidup di dunia, Green Peace salah satunya.
Di Indonesia, organisasi yang mewadahi kegiatan alam terbuka dimulai oleh perkumpulan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri yang berdiri pada bulan Mei 1964, sebagai metamorfosis organisasi kepanduan yang ada pada saat itu. Dan di penghujung tahun yang sama berdiri MAPALA UI dengan Soe Hok Gie sebagai pendirinya. Wanadri dan MAPALA UI inilah yang menjadi pemicu berdirinya organisasi-organisasi pecinta alam lainnya di Indonesia. 

PECINTA ALAM, BAGAIMANA SEHARUSNYA?
Pecinta Alam adalah organisasi yang mewadahi anggotanya dalam berkegiatan di alam terbuka, lingkungan hidup dan tentunya memberikan pembelajaran bagaimana seharusnya seorang PA harus bersikap dan bertindak. Baik itu ketika sedang berkegiatan di alam terbuka maupun dalam kehidupan kesehariannya. Namun dewasa ini, PA seperti telah kehilangan arti sebenarnya. Dikarenakan dari orang-orang PA sendiri yang hanya menjadikan PA sebagai wadah untuk mencari ‘jati diri’ dari kebanggaan-kebanggan karena telah ‘menakhlukkan’ alam. Padahal alam disini bukan hanya sekedar obyek. Alam bisa berbicara, tentu dengan bahasa mereka. Yang seharusnya dijadikan sebagai ‘guru’ bagi kita semua, yang menyebut dirinya seorang PA. 
Seorang PA sebagai seorang manusia adalah makhluk Tuhan yang hidup di lingkungan bersama masyarakat disekitarnya. Oleh karena itu seorang PA harus bisa menempatkan dirinya di hadapan Tuhan, lingkungan dan manusia yang lain.
Di hadapan Tuhan seorang PA harus sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan-Nya. Menjaga, memelihara dan menggunakan sumber daya alam yang ada sesuai dengan kebutuhan adalah wujud nyata pengabdian seorang PA terhadap Tuhan dan lingkungannya. Selain respek terhadap lingkungan alam, seorang PA juga harus respek terhadap lingkungan budaya yang akan sering ia hadapi. 
Dalam perjalanan di alam tebuka, seorang PA akan melalui daerah-daerah dimana terdapat adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan penduduk setempat yang terkadang terasa aneh oleh kita yang tidak terbiasa. Adat-istiadat yang berbeda ini harus dipandang dengan sikap yang positif, dengan menghargainya sebagai salah satu kebudayaan yang beraneka ragam yang dimiliki oleh negeri ini. Dengan menghargai adat-istiadat, kepercayaan dan kebiasaan penduduk setempat, akan membuat kita lebih mudah berkomunikasi dengan mereka yang lebih mengenal tentang wilayah yang kita kunjungi tersebut. Yang dijadikan catatan adalah bagaimana cara kita menyikapi hal-hal yang merupakan adat-istiadat, kepercayaan dan kebiasaan penduduk setempat, sehingga tidak membuat mereka sakit hati karena merasa tidak dihormati oleh tamunya.
Dengan manusia yang lain seorang PA harus bisa mengejawantahkan fenomena-fenomena alam yang masing-masing memberikan arti-arti filosofis yang positif. Yaitu: seorang PA harus bisa memberi semangat (surya), memberi keindahan (candra/bulan), menjadi tauladan (kartika/bintang), fleksibel (bayu/angin), berwibawa (angkasa), tegas (gegana/api), berpikiran luas (samudra) dan menghargai orang lain (bumi). 

PECINTA ALAM DAN KEGIATAN ALAM TERBUKA
Kegiatan alam terbuka dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Kegiatan ilmiah/riset: penelitian hutan, botani, zoologi, geologi dll.
2. Kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan: pencarian sumber minyak dan bahan tambang, pemetaan dll.
3. Kegiatan petualangan/penjelajahan: pendakian gunung, penyusuran sungai, penyusuran gua, penyusuran pantai dll.
4. Kegiatan olah raga dan rekreasi: camping, out bond dll.
5. Kegiatan kemanusiaan: Search and Rescue.
Seseorang yang melakukan kegiatan alam terbuka berarti secara langsung berhubungan dengan kondisi-kondisi yang cenderung mengandung bahaya. Disini dikenal dua jenis bahaya yang dihadapi oleh para penggiat alam terbuka, yaitu: subjective danger dan objective danger. 
Subjective danger adalah bahaya yang disebabkan oleh pelakunya sendiri, yang dalam konteks ini adalah penggiat alam terbuka. Bahaya ini kebanyakan disebabkan karena kurangnya pemahaman keilmuan penggiat alam terbuka tentang kegiatan yang akan dilakukannya. 
Objektive danger adalah bahaya yang ada dari medan kegiatan alam terbuka itu sendiri. Antara lain cuaca, keadaan medan dan keadaan lingkungan. Bahaya ini dapat diminimalisir dengan pencarian informasi tentang medan yang akan dihadapi. Baik itu dari literatur-literatur yang ada atau lewat informasi personal. Serta pemilihan waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan alam terbuka.
Collin Mortlock, seorang pakar pendidikan alam terbuka mengkategorikan kemampuan yang diperlukan oleh penggiat alam terbuka sebagai berikut:
1. Technical Skill, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan ritme dan keseimbangan gerakan.
2. Physical Skill, yang mencakup kebugaran spesifik yang dibutuhkan untuk kegiatan tertentu.
3. Human Skill, yaitu pengembangan sikap positif kesegala aspek untuk meningkatkan kemampuan. Antara lain: kemauan, percaya diri, kesabaran, konsentrasi, analisa diri, kemandirian, serta kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.
4. Environment Knowledge Skill, yaitu pengembangan kewaspadaan terhadap bahaya dari lingkungan yang spesifik.
Yang terpenting dalam melakukan kegiatan alam terbuka adalah adanya penghargaan terhadap hidup si pelaku kegiatan sendiri. Melakukan kegiatan alam terbuka dengan menerapkan prosedur yang benar (safety procedure) adalah sebuah keharusan bagi seorang penggiat alam terbuka. 

Kami berpetualang bukan karena kebanggaan, 
bukan pula karena mencintai kematian. 
Tapi kami berpetualang karena kami ingin belajar
dan karena kami sangat menghargai hidup.



1. Dilarang Membunuh Sesuatu apapun, Kecuali Waktu.

2. Dilarang Mengambil apapun, Kecuali Gambar/Photo.

3. Dilarang Meninggalkan apapun, Kecuali Jejak Kaki.

Sejarah Pembuatan Tali dan Temali di dunia Kegiatan kepencintaalaman atau kegiatan di alam bebas adalah Salah satu peralatan yang sangat penting dan sangat mendukung dalam pelaksanaan kegiatan ini. Tali dan Temali  bagi setiap penggiat alam bebas sudah merupakan kebutuhan utama, yang setiap saat dapat menjadi penolong hidupnya, bahkan dalam kondisi survival. Olehnya itu pengetahuan dan keterampilan tentang Tali dan Temali sangat perlu dipahami sebelum melakukan kegiatan alam bebas. 



Tali dan Temali  secara harfiah (menurut arti kamus) berarti untaian-untaian panjang yang terbuat dari berbagai bahan yang berfungsi untuk mengikat, menarik, menjerat, menambat, menggantung dsb. Secara etimologi, tali temali dapat diartikan sebagai segala sesuat yang berkaitan dengan fungsi dan kegunaan tali. Tali dan Temali pada mulanya berasal dari akar-akar pohon. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan manusia, tali juga mengalami perkembangan, khususnya dalam hal bahan dan konstruksinya. 

Jika Tali dan Temali pada mulanya hanya berupa akar-akar pohon, maka selanjutnya manusia menciptakan tali dari anyaman serat alam dengan menggunakan peralatan tenun yang masih sederhana. Serat alam yang digunakan kebanyakan dari ijuk atau rambut dan serat alam lainnya seperti kapas, wol, sutera, serta serat tumbuhan yang lain. Sayangnya, tali yang terbuat dari serat alam tersebut masih memiliki keterbatasan, yakni serat alam mudah mengalami pembusukan dan penyusutan sehingga tidak bertahan lama. Hal ini tentunya memaksa manusia untuk mencari alternatif tali yang bagus, dan karena tuntutan kebutuhan akan tali yang semakin meningkat, maka terciptalah tali yang terbuat dari bahan sintetis, yang memiliki daya tahan yang lebih lama dan lebih kuat dari tali yang terbuat dari serat alam. 
Sejarah Pembuatan Tali  dan Temali  ini pertama kali diperkenalkan oleh W.H. Carothers, seorang ahli kimia dan di produksi oleh E.I. du Pont de Memors and Co. pada tahun 1938. 



W.H. Carothers

Selanjutnya, selama Perang Dunia II , produksi tali dari sera sintetis ini semakin meningkat, sehingga tali yang terbua dari serat alam berkurang di pasaran. Namun setelah perang usai, kelangkaan Tali dan Temali dari serat sintetis mulai terasa. Hal ini disebabkan oleh karena bahnnya yang susah didapat dan harganya yang mahal.

Tali dan Temali
  dari bahn sintetis, khususnya nylon, pada awalnya hanya diproduksi untuk kepentingan militer dan para pelaut. Kemudian, dengan semakin berkembangnya kegiatan yang mengarah ke alam terbuka, maka tali ini pun mulai dikenal oleh penggiat alam bebas. Disamping itu, tali ini juga mengalami perkembangan dalam hal konstruksi dan bahan pembuatannya.

SEJARAH TALI TEMALI

Posted by Unknown
Tuesday, January 29, 2013


Diksar atau pendidikan dasar bagi pecinta alam tentu tidak asing bagi para penggiat alam terbuka. Diksar adalah sebuah proses yang seharusnya di jalani bagi penerus sebuah organisasi penggiat alam bebas. Diksar kini seolah menjadi hantu yang menakutkan bagi calon anggota sebuah organisasi. Kemudian, perlukah Diksar bagi pecinta alam?



Kita sering melihat atau mendengar, banyak pendaki gunung yang tewas ataupun hilang karena tersesat saat berkegiatan mendaki gunung. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ternyata hal - hal tersebut terjadi karena berbagai hal penyebab. Lalu apabila itu semua telah terjadi, siapa yang bertanggung jawab? Tidak ada satupun yang sanggup, bahkan negara pun tidak bisa menyediakan fasilitas bagi rakyatnya untuk sekedar menikmati alam.

Dari semua itu, apa hubungannya dengan Diksar ( Pendidikan Dasar ) ? Berikut ini beberapa hal yang ada dalam sebuah Diksar pecinta alam.

1. Pembentukan mental dan karakter yang kokoh
2. Pembentukan sikap rendah hati dan peduli lingkungan
3. Pembentukan kapasitas ilmu dalam berkegiatan di alam
4. Pembentukan kesadaran akan rasa kesamaan, kebersamaan, dan kekeluargaan
5. Membentuk pribadi yang bijak dan beradab

Contoh kecelakaan diatas bisa terjadi pada siapa saja. Orang yang profesional sekalipun mempunyai resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. Kita tidak bisa memungkiri adanya kehendak Tuhan, namun yang bisa kita lakukan adalah mengurangi resiko kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut dari sisi manusianya sendiri ( human error ). Menjadi sorotan utama apa saja yang kita butuhkan, bukan hanya sekedar fisik dan ilmu.

Memang keduanya begitu sangat penting, namun bukan yang terpenting apabila keduanya berdiri sendiri - sendiri. Banyak hal yang terjadi selama dilapangan, kombinasi dari beberapa elemen yang kita miliki bisa menjadi solusi yang lebih baik.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Diksar tidak hanya mempersiapkan skill dalam berkegiatan di alam, namun juga sebagai tonggak awal berkembangnya mental dan instingmereka. Akhirnya dari kombinasi itu mereka lebih percaya diri, lebih mampu mengukur kemampuannya, dan peka terhadap sekelilingnya.

Selalu mempertimbangkan akal sehat dan bukan sekedar menuruti hawa nafsu. Bisa di katakan bahwa, lebih banyak kecelakaan terjadi di gunung atau hutan bukan karena lemah fisiknya, namun karena kurang rasa percaya diri, dan hilangnya fungsi seorang pemimpin. Kondisi demikian berlanjut pada kacaunya komunikasi antar kelompoknya, ketidakpercayaan pada pemimpin, rasa takut yang hebat, hingga hilangnya semangat untuk mempertahankan hidup. Disini Diksar memiliki peranan yang amat penting sebelum seseorang melangkahkan kakinya dialam bebas.

Apakah Diksar adalah pilihan satunya - satunya? Bagaimana dengan seseorang yang memiliki pengalaman dan jam terbang yang tinggi haruskah juga melewati prosesi ini?

Kita semua sangat setuju dengan kalimat, bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, pengalaman dapat lebih menunjukkan identitas dan karakter kita. Apalagi seseorang yang memiliki jam terbang yang tinggi, secara tidak langsung ia telah mendorong dirinya untuk cepat berkembang.

Tidaklah heran bahwa nantinya akan tumbuh daya juang yang tinggi dan respon tubuh yang baik saat kondisi yang tidak diinginkan. Diksar adalah lompatan awal yang akan di hadapinya lagi dengan banyaknya jam terbang. Namun tidak mutlak harus dilalui jika ia mampu melompatinya dengan baik dan sama berat apa yang dilakukan.

Banyak orang yang tidak memiliki latar belakang pecinta alam atau juga banyak yang tidak melalui proses Diksar, namun bisa lebih mengkondisikan dirinya dalam berbagai situasi, menghasilkan solusi yang cerdas, dan bisa diandalkan. Dan banyak juga yang memiliki latar belakang pecinta alam hanya sebatas kebanggaan akan lencana yang di pakai, namun tidak bisa menolong dirinya dan bahkan menjadi benalu bagi yang lain.

Diksar adalah pintu pertama dalam sebuah kurikulum, namun outputnya tergantung dari isi dan orangnya masing - masing. Namun jika kita tidak tahu apa - apa, mengikuti seluruh kurikulum dengan baik adalah jalan yang lebih aman.



POSTINGAN TERBARU

Copyright © Berbagi Informasi - Murian - Powered by Blogger - Designed by Murian